Just Another Place 2 Share


Kapan Kawin? Emangnya Harusss??

26 Nov 2008

mikir

Seorang teman cewek yang udah lama ngga kontak tiba2 ngebuzz YM gw.

Setelah basa basi bentar, dia langsung nembak , kong kapan dang babaundang? pake logat Manado yang artinya kapan nih undangannya?

Maksudnya? gw sok ga ngerti dulu.
Maksudnya lo kapan merit lagi? Kan udah lama menduda, udah ada calon blom? langsung to the point aja dianya.

Gw sih bales nanya, Lha emang gw pernah bilang gw mo merit lagi? <iipsmiley>

Ah dasar aneh lo! jawabnya singkat.

Apa iya gw aneh?

Dari pengalaman kegagalan pernikahan gw yang hanya berjalan 2 tahun lebih, dan pengalaman relationship2 yang pernah gw jalani, akhirnya gw coba mengintrospeksi diri.

Dan kesimpulannya, gw emang bukan tipe yang bisa terikat.

Segala tetek bengek bentuk pengertian, saling tenggang rasa dan apalah itu namanya untuk menjaga kelanggengan hubungan, itu semua sangat tidak nyaman buat gw. Memang, gw terlalu egois untuk mengorbankan kebebasan gw bereskpresi, kebebasan menentukan langkah2 gw sendiri, kebebasan gw mengatur jam biologis gw sendiri, kebebasan gw untuk menjadi diri gw sendiri, meskipun itu atas nama cinta. Pernikahan dan jenis2 long relationship seperti itu buat gw hanyalah sebuah penjara yang tidak ingin gw jalani.

Sama dalam memilih profesi juga. Setelah sekian tahun mencoba beberapa profesi sebagai karyawan, akhirnya gw menyadari bahwa terikat hubungan kerja dengan sebuah perusahaan yang mengharuskan gw menghabiskan 7 jam waktu gw setiap hari di kantor, harus naik tempat tidur sebelum tengah malam biar keesokan paginya ngga telat bangun untuk ke kantor, serta rutinitas2 membosankan lainnya, semua itu sangat tidak nyaman untuk gw jalani. Tidak peduli seberapapun besarnya materi yang gw dapatkan dari situ. Dan gw memutuskan, gw harus mencari sesuatu ataupun menciptakan suatu pekerjaan dimana gw bisa menjalankannya secara fleksibel dengan waktu yang harus gw atur sendiri.

Meskipun harus memulai dari nol, tapi gw tau apa yang gw cari dan itulah salah satu ukuran kebahagiaan bagi gw, ketika kita tau apa yang kita mau dan berusaha untuk mendapatkannya meskipun harus dengan pengorbanan.

Nah kembali ke masalah merit tadi. Apa iya gw aneh klo gw lebih memilih apa yang gw mau..? Apa iya gw aneh klo gw tidak kepengen melakukan apa yang dilakukan orang laen? Haruskah gw menikah hanya karena katanya menikah dan berkeluarga itu adalah kebutuhan setiap mahluk hidup yang namanya manusia?

Mungkin benar bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dimana secara alami harus melewati yang namanya proses lahir, bertumbuh dewasa, berpasang2an, berketurunan dan kemudian mati. Tapi gw juga yakin, Tuhan menciptakan setiap manusia itu unik, dan kita juga diberi kehendak bebas untuk menentukan pilihan hidup dengan segala konsekuensinya.

Jadi kapan gw merit lagi??? Emangnya harus?

Foto : Flickr


TAGS


-

Search

Latest