Just Another Place 2 Share


Ketika Presiden Bush Dilempar Sepatu

15 Dec 2008

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/NdqB_8CrDaA" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

So what if the guy threw his shoe at me?“, salah satu komentar cuek yang dikeluarkan Bush mengenai insiden 14 Desember kemarin ketika seorang wartawan Irak melempar dua buah sepatu ke arahnya. *Jelas ngga kena lha wong si Bush jago ngeles!!*

Sambil melempar dua buah sepatu dengan keras ke arah Bush yang sedang mengadakan konferensi pers bersama Perdana Mentri Irak Nouri al Maliki menandai persetujuan kerjasama keamanan Amerika-Irak, Muthathar al Zaidi si wartawan berteriak “This is a goodbye kiss, you dog,”

Presiden Bush yang sebentar lagi akan mengakhiri jabatan Presidennya itu tampak tidak terlalu ambil pusing. Menurutnya itu hanyalah salah satu tindakan untuk menarik perhatian. Sama saja ketika ia sedang melakukan kampanye politik dan banyak orang yang berteriak-teriak ke arahnya. Iapun tidak merasa terancam dengan adanya insiden itu.

Tapi kalau melihat dari sisi si pelempar, kita mungkin maklum dan bisa merasakan seberapa besar emosi dan kebencian Zaidi kepada petinggi nomor satu Amerika yang sangat berperan penting atas ekspansi dan agresi Amerika ke Irak beberapa tahun yang lalu itu.

Yah, emosi dan kebencian. Salah satu musuh manusia yang datang dari dalam diri dan terkadang sulit untuk kita kalahkan.

Sangat manusiawi ketika emosi kita terpancing dan menjadi kemarahan atau bahkan menjelma lebih dalam menjadi sebuah kebencian. Namun apakah kita harus bereaksi dan mengekspresikan emosi dan kebencian itu. Bayangkan apa yang terjadi seandainya setiap orang tidak punya kcontrol atas emosi pribadi dan amarahnya?

Contoh sederhana ketika kita sedang berada di lalulintas Jakarta, entah sedang menyetir mobil ataupun dalam sebuah taksi. Terkadang kekesalan begitu memuncak terhadap pengendara2 sepeda motor yang cenderung semau gw memotong jalur dari berbagai arah. Kekesalan itu terkadang mampu mencuatkan keinginan untuk menabrak si pengendara motor sekedar untuk memberi pelajaran ataupun untuk pelampiasan emosi semata. Tapi apakah dorongan kemarahan seperti ini harus kita ekspresikan? Tentu tidak! Dengan berpikir panjang dan menyadari akibat-akibat yang akan ditimbulkan biasanya kita mampu mengendalikan dan meredam emosi itu.

Contoh nyata lainnya mungkin bisa kita lihat dalam kasus Marcella Zalianty dan Agung yang sedang hangat dibahas oleh tayangan-tayangan infotainment. Terlepas kejadian itu memang benar atas instruksi Marcella ataupun hanya puncak dari kekesalan anak buahnya yang telah lama mencari sosok Agung yang selama ini dianggap melarikan sejumlah uang milik majikannya, dan ternyata mereka menemukan orang yang dianggap telah melakukan kesalahan itu ternyata sedang asyik berdugem ria.

Akibat kegagalan mengendalikan emosi dan kemarahan itulah akhirnya menyeret mereka semua ke kasus hukum yang hingga kini belum selesai.

Rasanya cukup banyak kasus kecil maupun besar yang dapat kita pelajari yang timbul akibat kegagalan mengendalikan emosi dan rasa amarah kita. Dan akibat yang ditimbulkan biasanya sering berakhir dengan penyesalan *meskipun bagi sebagian orang mungkin tidak peduli*

Jadi.. masihkah kita tidak mau terus belajar untuk mengendalikan emosi dan amarah yang sering muncul dalam hati kita? Masihkan kekerasan dan tindakan brutal mejadi pilihan untuk mengekspresikan emosi dan kemarahan demi kepuasan kita? Itu semua pilihan kita dengan segala konsekuensi yang pastinya akan kita hadapi.

*Peace*Bush


TAGS Bush


-

Search

Latest