Just Another Place 2 Share


Angry…

9 Jun 2009

angry

Anyone can become angry that is easy. But to be angry with the right person, to the right degree, at the right time, for the right purpose, and in the right way this is not easy. - Aristoteles -

Kemaren malam sehabis ikut merayakan ultah 2 orang teman di Pisa Cafe Mahakan, gw dan Oki sahabat gw memberhentikan taxi bermaksud untuk pulang.

Taxi berhenti, kita naik. “Bendhil pak!” ujar gw datar memberitahukan tujuan kita ke supir taxi.

“Sebentar yah pak,” jawab si supir singkat, rupanya dia sedang bertelpon ria menggunakan handphone. Sepertinya ada seorang pelanggan yang ingin menggunakan jasa taxinya buat besok. Tanpa mempedulikan kita si supir terus ngobrol dengan lawan bicaranya sambil terus melaju dengan taxinya ke arah yang sebetulnya berlawanan dengan arah yang harusnya kita tuju.

Gw mulai terganggu.

“Pak kita mau ke Bendhil yah!” suara gw mengeras untuk menarik perhatian si supir.

“Iya sebentar pak!” hanya itu yang keluar dari mulut si supir sambil terus ngobrol dan terus melaju, sekali lagi ke arah yang berlawanan.

Gw diam, temen gw juga hanya diam.

Beberapa lama kemudian obrolan si supir selesai, dia menyimpan handphone dan baru akhirnya meladeni kita.

Setelah menanyakan tujuan yang harus gw ulangi untuk yang ketiga kali, dan kemudian dia harus memutar arah karena tadi menuju arah yang salah, si supir meminta maaf. “Maaf pak, itu tadi pelanggan yang besok mau naik taxi saya.”

Emosi gw yang sudah cukup memuncakpun lepas, ” Saya tau pak. Tapi bapak seharusnya meladeni kita dulu karena kita sudah naik ke taxi bapak!”

“Apa susahnya bapak bilang ke si penelepon *maaf sebentar ada penumpang*, kan hanya sebentar dan bapak silahkan lanjutkan pembicaraan!?” Nada bicara gw cukup tinggi.

Pak supir yang kira-kira berumur di atas 50 tahunan itupun kembali meminta maaf dan sedikit memohon jangan sampai gw melaporkan beliau ke kantornya.

Hmm.. melihat si supir yang sudah cukup berumur dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh, kemarahan gw pun lumer seketika menjadi rasa tidak enak telah berbicara cukup keras, meskipun gw merasa berhak untuk marah.

“Oke pak, lupakan saja. Semarah-marahnya saya ngga akan tega untuk merusak periuk nasi orang lain hanya karena masalah seperti ini,” kata saya menenangkan dan berusaha menyampaikan bahwa kemarahan gw pun sudah usai.

Taxipun memasuki wilayah Bendhil dan berhenti di depan gerbang kos gw.

Gw pun turun, menyerahkan ongkos, mengucapkan terima kasih dan meminta maaf atas kemarahan gw tadi.

Itulah kemarahan, bisa datang pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja.


TAGS hidup Blogging


-

Search

Latest