Just Another Place 2 Share


Mengandalkan Otak Kanan, Para Pelaku Bom Bunuh Diri Mati Konyol Dua Kali

22 Jul 2009

Sketsa wajah pelaku bom bunuh diri mega kuningan
Sketsa Wajah Pelaku Bom Bunuh Diri Mega Kuningan (JW Mariott & Ritz Carlton)

Ga dipungkiri lagi, para teroris pelaku bom bunuh diri (suicide bomber) ini kayaknya lebih banyak menggunakan otak kanan dalam memahami agama dan keyakinan mereka. Klo merujuk kesimpulan para ahli, otak kanan lebih banyak menggunakan perasaan dan imajinasi, beradasarkan fantasi, meledak-ledak dan cenderung berani mengambil resiko. Otak kanan banyak berperan dalam menentukan kadar keyakinan (believe & religion) seseorang. Sebaliknya otak kiri lebih banyak menggunakan logika yang berdasarkan pada fakta-fakta dan logika, praktikal dan cenderung penuh pertimbangan (safe). Otak kiri lebih banyak digunakan dalam memahami imu pengetahuan (science)

Katanya sih masing-masing individu punya kecenderungan menggunakan salah satu bagian otak lebih dominan dibanding bagian lainnya, dan kalo aja kita gagal menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan akan sangat berpengaruh dalam cara pandang kita yang berhubungan dangan keyakinan dan keberagamaan kita. Dominansi otak kiri bisa membawa kita menjadi seorang atheis sebaliknya dominansi otak kanan bisa menjebak kita ke fanatisme agama yang berlebihan, dan keliatannya sih ini yang terjadi pada para pelaku bom bunuh diri itu.

Yang patut kita acungi jempol sih aktor dibalik pendoktrinasian para pelaku ini yang bikin mereka mengenyampingkan fungsi otak kiri dan siap mengantarkan nyawa untuk apa yang mereka yakini sebagai mati sahid. Para pelaku sampe ga sempat mikir kalo tindakan mereka akan mengorbankan banyak orang tidak bersalah, menghancurkan kehidupan keluarga-keluarga yang ditinggalkan korban-korban yang tewas karena aksi mereka dan lebih luas lagi untuk kasus di Indonesia akan sangat mengganggu perekonomian dan akhirnya juga merugikan masyarakat secara keseluruhan. Mereka bahkan lupa bahwa mengambil nyawa manusia itu adalah hak Tuhan, mereka lupa ajaran-ajaran damai yang digaung-gaungkan agama yang mereka anut. Dan berharap akan segera bertemu bidadari-bidadari surgawi dengan tindakan mereka itu. Sama sekali ga sadar bahwa mereka sebetulnya mati konyol karena doktrinasi yang telah melemahkan fungsi otak kanan.

Belakangan banyak muncul juga teori-teori bahwa bukan tidak mungkin sebetulnya pergerakan terorisme ini ditunggangi oleh pihak-pihak yang lebih besar yang punya kepentingan-kepentingan dalam mengendalikan roda perpolitikan dan perekonomian dunia, siapa lagi kalau bukan dunia barat, dunia yang dianggap kafir oleh para teroris. Ada beberapa teori yang mencurigai kemungkinan dunia barat yang diperangi oleh teroris justru menjadi aktor besar yang mendanai sepak terjang para teroris ini dengan tujuan untuk mendiskreditkan dunia timur yang diwakili dunia Islam. Lha seandainya gosip ini benar, artinya teroris dan para pelaku bom bunuh diri ini sebetulnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mereka anggap musuh besar mereka dong. Klo benar begitu alangkah tragisnya, karena pelaku bom bunuh diri ini sama aja mati konyol dua kali. Mati karena fanatisme yang berlebihan dan mati karena fanatismenya dimanfaatkan oleh pihak yang diperangi oleh fanatisme itu sendiri.

Tambahan : Perbandingan fungsi OTAK KIRI dan OTAK KANAN (sumber)

LEFT BRAIN FUNCTIONS RIGHT BRAIN FUNCTIONS
uses logic uses feeling
detail oriented big picture oriented
facts rule imagination rules
words and language symbols and images
present and past present and future
math and science philosophy & religion
can comprehend can get it (i.e. meaning)
knowing believes
acknowledges appreciates
order/pattern perception spatial perception
knows object name knows object function
reality based fantasy based
forms strategies presents possibilities
practical impetuous
safe risk taking


TAGS Suicide Bomber Terorisme Opini


-

Search

Latest