Just Another Place 2 Share


Ketika Global Warming hanyalah Euphoria Omong Kosong Belaka

10 Nov 2011

global warming

Gw baru duduk dan siap menyantap 2 potong ayam goreng original di salah satu resto fast-food favorit gw. Di salah satu meja persis di depan gw, seorang wanita berusia sekitar 27-30 tahun duduk bercengkerama dengan 2 orang temannya yang kurang lebih sebaya. Wanita cantik, pakaian rapi dan trendy dengan rambut agak pirang digelung ke belakang, kayaknya sih dia punya posisi yang cukup bagus di perusahaannya, sedangkan 2 orang temannya, kalau dilihat dari gaya dan bahasa tubuh mereka sih kayaknya bawahan dari wanita cantik tadi.

Sambil menguyah potongan2 French friesnya satu persatu, perempuan cantik ini berceloteh dan terdengar sangat bijak dikuping gw. Yup.. dia membahas tentang bahaya Global Warming. Tentang bagaimana kita harus peduli hingga hal-hal yang kecilpun biar kita ngga ninggalin bumi yang semakin rusak ini ke anak cucu kita. Wah salut, ada wanita cantik, karir oke peduli lagi.

Sesekali wanita itu sibuk dengan blackberry ditangannya. Jangan-jangan dia lagi ngetwit tentang global warming pula :)

Beberapa selang berlalu, perempuan ini berdiri dan menuju wastafel di arah kiri ruangan yang masih keliatan dari meja duduk gw. Dia membasuh tangannya, menggunakan sedikit sabun, membilas dan kemudian meninggalkan wastafel kembali bergabung dengan 2 temannya yang sedaritadi tidak banyak bicara kecuali mendengarkan si wanita ini.

And you know what? Wanita yang peduli global warming ini ternyata tidak mematikan kran air di wastafel. Dan kayaknya ini pemadangan yang biasa gw liat ketika orang-orang menggunakan wastafel resto, mereka terlalu takut kembali menyentuh kran wastafel dan mengotori tangan yang sudah bersih dengan minyak-minyak yang biasanya lengket di pegangan kran. Tanpa rasa berdosa merekapun meninggalkan air yang terus mengalir, membiarkan pemborosan energi dan sumber daya alam terbuang percuma. Karena kita pasti tau, untuk mengalirkan air bersih di kota Jakarta ini membutuhkan proses dan teknologi yang cukup panjang dan makan energi pula. Rupanya wanita yang peduli Global Warming ini lebih peduli dengan kebersihan jari jemarinya dibanding isu yang jauh lebih besar yang ia gaungkan dengan semangat.

Sambil memanggil waiter yang lewat dan menunjuk ke arah kran wastafel yang ngalir tadi, gw sedikit termenung. Wanita di depan itu hanyalah salah satu gambaran dari kebanyakan manusia seperti kita. Yang sering terlibat euphoria-euforia tentanga isu-isu yang besar seperti global warming, tampak begitu peduli melalui ucapan kita, status-status kita di social media bahkan mungkin bergabung dengan salah satu organisasi lingkungan yang bertujuan mensosialisasikan kegiatan-kegiatan yang dapat menghambat laju global warming. Tapi dalam keseharian kita terlalu egois dan terlalu peduli dengan diri sendiri sehingga kita banyak melakukan tindakan-tindakan yang tidak mencerminkan kepedulian kita.

Maka kepedulian kitapun hanya menjadi omong kosong belaka karena kita tidak mulai peduli dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan sehari-hari.


TAGS global warming


-

Search

Latest