Just Another Place 2 Share


Puasa? What’s the point?

20 Jul 2013

Pertanyaan diatas sering terlintas di kepala saya beberapa tahun belakangan ini. Terlebih ketika sedang bulan Ramadhan a.k.a bulan puasa yang katanya selalu dinanti oleh orang muslim. Meskipun saya bukan orang muslim, tapi sebagai orang Indonesia yang dikelilingi mayoritas pemeluk agama Islam, saya sudah cukup familiar dengan artikel, tulisan, khotbah atau apapun itu yang mengaung-gaungkan manfaat puasa, baik secara spiritual maupun dari segi kesehatan.

Manfaat puasa yang berhubungan dengan kesehatan memang baru banyak di bahas di jaman modern ini. Yah minimal akan memotivasi orang untuk ikut melakukan puasa. Dan kemudian imbalan pahala dan pengampunan dosa dengan menjalankan puasa tentunya juga menjadi motivasi besar. Tapi ada 1 hal penting yang sebetulnya pernah menjadi kekaguman saya terhadap konsep puasa ini dimana dengan menjalankan ibadah menahan hawa nafsu setiap hari dari pagi sampai sore hingga sebulan penuh, harusnya menjadi ajang latihan pengendalian emosi dan hawa nafsu yang cukup baik. Tapi apakah hal ini benar-benar bisa terjadi? Saya pribadi kok berani menjawab tidak yah.

Bertahun-tahun saya menyaksikan bulan puasa berlalu setiap tahunnya tanpa meninggalkan sedikitpun bekas yang signifikan terhadap mental orang Indonesia yang notabene beragama Islam. Menurut saya, puasa hanya menjadi euforia tahunan, selebrasi keagamaan yang dijalankan tanpa esensi yang jelas.

Jangankan setelah berlalunya bulan puasa, masih dalam suasana ramadhanpun saya tidak menyaksikan adanya perubahan mental yang positif dilingkungan sekitar. Yang berubah hanya suasana tempat makan yang sepi di siang hari, dan kemudian mendadak ramai menjelang buka puasa. Kemudian ramainya kelompok-kelompok tertentu memberi sumbangan sana sini lengkap dengan atribut-atribut pakaian muslim warna-warni yang modis dan modern. Perubahan mental? Nol besar.

Contoh kecil silahkan lihat di jalan raya, bagaimana pemakai jalan di Jakarta yang egois, mau menang sendiri, tidak disiplin. Kondisi ini selalu sama entah bulan puasa ataupun tidak. Coba perhatikan kacaunya lalulintas Jakarta terutama di lampu merah dipinggir-pinggir kota, mereka yang suka melanggar dan tidak mau mengalah tetap sama kok baik di bulan puasa ataupun tidak. Bahkan ketika menjelang puasa akan menjadi semakin parah ketika semua orang berlomba-lomba untuk pulang dan berharap tidak terlambat mengejar waktu buka puasa di rumah masing-masing. Berbagai cara untuk melanggar lalu lintaspun dilakukan. Benar-benar esensi puasa terlupakan disini.

Yah tapi siapalah saya untuk menilai. Puasapun saya tidak pernah. Lagian kalau puasa hanya sekedar euforia, atau karena embel-embel pahala semata? what’s the point?

Tapi saya masih terus berharap, setiap tahun menjelang puasa, kepada orang-orang dan teman-teman muslim yang cukup dekat, saya selalu mengucapkan “selamat menjalankan puasa, dan semoga ibadah sebulan penuh akan membuat kamu semakin dewasa, semakin bijak dan semakin baik mengendalikan emosi. tidak sekedar meramaikan euforia tahunan”.


TAGS puasa ramadhan


-

Search

Latest