Just Another Place 2 Share


Kadang kita tidak tahu kapan Tuhan memakai kita membantu orang lain

27 Nov 2013

Sejak terjun ke bisnis jasa pembuatan website, baik ketika masih freelance hingga sekarang sudah bertransformasi dalam bentuk badan hukum atau perusahaan. Saya termasuk yang konsisten mempertahankan penawaran harga pembuatan website yang diajukan ke klien. Ada banyak faktor yang menentukan ketika saya membuat penawaran, dan sangat jarang ada pihak klien berhasil menawar harga lebih rendah dari yang saya ajukan. Karena prinsip saya adalah “ada harga ada kualitas”. Negosiasi kadang terjadi, tapi lebih ke bentuk service, bukan penguranga harga.

Beberapa minggu lalu, seorang wanita menghubungi saya melalui telepon untuk menanyakan jasa pembuatan toko online. Setelah diskusi panjang lebar mengenai kebutuhannya, sayapun mengajukan harga sesuai apa yang ia butuhkan. Namun ternyata, wanita ini memiliki budget jauh dibawah penawaran harga saya. Dalam diskusi berikutnya (masih melalui telepon), wanita ini meminta solusi-solusi dari saya agar dia dapat memperoleh toko online yang berkualitas mengingat budgetnya sangat terbatas. Tidak sampai separuh dari penawaran harga dari saya. Saya pun dengan senang hati memberikan masukkan, bagaimana cara mencari jasa lainnya yang lebih murah. Faktor-faktor apa yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jasa pembuatan website atau toko online dengan biaya murah. Bagaimana resiko dan konsekuensinya ke depan, mengingat jasa pembuatan website dan toko online murah biasanya menggunakan CMS Opensource.

Dalam diskusi, wanita ini sempat mencoba bernegosiasi, kira-kira dengan budget yang dia miliki, apakah memungkinkan kalau tetap menggunakan jasa perusahaan saya meskipun dengan fitur-fitur yang terbatas. Namun sayang sekali saya harus menolak karena budgetnya terlalu kecil. Tapi entah bagaimana, dalam diskusi kami yang panjang akhirnya sayapun menyanggupi untuk mengerjakan toko onlinenya sesuai dengan budget dia tadi. Dipikir2 sesekali membantu juga tidak apa-apa, berhubung wanita ini menurut saya sangat mendambakan memiliki toko online yang bermutu untuk memulai bisnis barunya dibidang fashion. Akhirnya kami sepakat untuk ketemu dalam 1-2 hari ke depan. Tentunya lokasi pertemuan adalah di kantor saya.

Dalam jangka waktu beberapa hari si wanita ini mengabarkan bahwa dia belum bisa datang ketemu saya di kantor karena anaknya sakit, sementara saya pribadi ada sedikit menyesal telah menerima project ini dengan budget yang sangat minim. Saya berharap agar project ini batal. Karena saya termasuk orang yang tidak bisa menarik janji atau ucapan yang sudah keluar dari mulut, jadi tidak mungkin saya membatalkan secara sepihak.

Selang 2 minggu, si wanita ini akhirnya datang ke kantor dan ketemu saya. Seperti biasa, jika ketemu klien personal, saya selalu mengajak “ngobrol” santai tentang hal-hal yang personal sebelum masuk ke obrolan bisnis. Kesan pertama yang saya tangkap, wanita ini sangat sederhana, polos dan seperti memiliki aura positif yang enak dilihat meskipun secara fisik mungkin tidak tergolong cantik. Outfitnya pun berupa blus batik sederhana sambil menenteng backpack yang sudah sedikit lusuh. Dari obrolan santai ini kemudian saya tahu bahwa dia adalah seorang guru dan suaminya PNS. Namun beberapa bulan belakangan dia harus resign dari pekerjaannya karena anaknya yang masih kecil terserang penyakit sejenis virus dan sangat mudah masuk keluar rumah sakit. Demi anaknya yang butuh perhatian lebih, dia harus meninggalkan pekerjaan. Cara wanita ini menyampaikan masalahnyapun tidak terdengar seperti orang mengeluh. Terdengar ikhlas dan seperti sudah seharusnya begitu. Untuk itulah dia harus memulai bisnis sendiri. Yaitu dengan memproduksi baju-baju berbahan batik menggunakan jasa tukang jahit. Bahan batik dicari dan dipilih sendiri, juga di desain sendiri. Dan kemudian dijual sendiri. Dan dia ingin mengembangkan bisnis ini melalui toko online agar dapat mengerjakan dari rumah sambil menjaga anaknya.

Saya seperti tersadar, seandainya dari awal saya mengenal perempuan ini dan melihat pribadi serta tujuannya, tentu saya dengan senang hati akan menerima project ini sesuai budget yang dia punya. Buat saya, orang-orang inilah yang layak dibantu. Yang tadinya saya sempat menyesal karena menerima project ini, dalam hati saya justru bersyukur karena tanpa sadar, Tuhan telah menggerakkan saya untuk membantu si wanita sederhana namun luar biasa ini.


TAGS


-

Search

Latest