Just Another Place 2 Share


Dokter Pekerja vs Dokter Profesional dan BPJS Kesehatan

25 Oct 2014

Thanks God, saya termasuk orang yang jarang berurusan dengan dokter dan Rumah Sakit. Sekali pernah masuk dan diopname selama 10 hari di sebuah Rumah Sakit swasta di Samarinda, dan itu terjadi sekitar 16 tahun yang lalu. Itupun semua urusan administrasi dan biaya diurus dan ditanggung oleh perusahaan saya bekerja, saya hanya tinggal masuk, dirawat, sembuh dan pulang. Jadi boleh dibilang saya kurang berpengalaman dengan birokrasi dan administrasi Rumah Sakit. Makanya saya termasuk yang menganggap semua Rumah Sakit pastinya sama saja. Rumah Sakit pemerintah ataupun swasta, yang mahal ataupun murah, seharusnya mereka mampu memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi pasien karena tujuan dibangunnya Rumah Sakit untuk membantu pasien yang sakit untuk memperoleh kesembuhan bukan? Naif? Tapi itulah saya.

Ketika tinggal di Bendungan Hilir beberapa tahun yang lalu, saya sempat beberapa kali menggunakan jasa Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Mintohardjo di jalan Bendungan Hilir Raya. Alasan saya ke RS ini untuk berobat ketika merasa harus mendapatkan perawatan seorang Dokter karena RS ini yang paling dekat dengan tempat tinggal saya, dan seinget saya Dokter Umum yang bertugas disana Dr. Mulia Pinem sangat bersahabat dan cukup perhatian. Beliau dengan senang hati melayani konsultasi ketika kita membutuhkan. Bahkan beberapa kali ketika saya butuh saran, saya cukup menelepon beliau tanpa perlu datang ke Poli Umum RSAL tersebut. Oya, seinget saya juga biaya pemeriksaan di RSAL Mintohardjo memang tidak terlalu mahal, kalau tidak salah waktu itu hanya Rp. 50.000 sekali pemeriksaan. Kalau untuk obat-obatan, saya memang sangat percaya dengan obat generik. Selama masih ada tipe generiknya saya tidak akan membeli obat bermerek yang mahalnya selangit.

Ketika pindah ke Jakarta Barat, tepatnya Meruya, beberapa kali saya perlu berobat karena sakit, saya cukup mengunjungi sebuah klinik 24 jam yang letaknya hanya 100 meter dari tempat kos saya. Tidak pernah ada komplen atau merasa kecewa dengan pelayanan yang diberikan. Harga obatpun menurut saya masih terjangkau.

Nah bagaiman dengan asuransi kesehatan? Saya termasuk yang pandang enteng dengan fasilitas satu ini. Pernah sih mengikuti program asuransi kesehatan yang ditawarkan swasta, dan bahkan sampai ikut 2 program, toh akhirnya saya hentikan karena ternyata saya merasa tidak terlalu membutuhkan. Sok jagoanlah ceritanya. Alhasil saya tidak memiliki asuransi kesehatan lagi.

Namun beberapa bulan yang lalu cukup santer dibicarakan mengenai program BPJS Kesehatan. Tampaknya program ini sangat menarik. Saya tergerak untuk menggunakan program BPJS Kesehatan ini untuk memberikan asuransi kesehatan bagi beberapa karyawan di kantor saya. Untuk itu saya sengaja menjajal dan mendaftar di BPJS Kesehatan secara online dan ternyata proses pendaftarannya sangat mudah. Bahkan untuk kartu BPJS Kesehatan cukup diprint out dari halaman website, lipat dan masukkan ke dalam dompet. Premi yang murah juga bikin saya merasa santai saja membayar premi per bulan tanpa berpikir apakah saya akan menggunakan BPJS Kesehatan ini atau tidak. Yang ada dipikiran saya, program ini sangat bagus dan kita harus ikut mendukung. Titik.

Meskipun sudah memiliki BPJS Kesehatan, beberapa kali sakit dan harus berobat ke dokter, saya masih memilih untuk ke klinik 24 jam langganan saya tadi tanpa perlu menggunakan BPJS Kesehatan tadi. Sekali lagi karena menurut saya harga berobat dan biaya berobat untuk penyakit-penyakit ringan saya masih sangat terjangkau.

Nah, kira-kira 2 minggu yang lalu, saya merasakan rasa sakit cenderung panas di *maaf* anus saya. Sakitnya sih tidak seberapa, jadi saya pikir mungkin wasir yang sudah sering saya rasakan sejak usia 20an sedang kambuh. Sayapun cukup minum Ambeiven yang saya beli dari apotik. Selama 2 hari, ternyata rasa sakit tadi tidak berkurang dan pada hari ketiga justru rasa sakitnya semakin terasa. Saya coba memeriksa sendiri ke bagian selangkangan saya, ternyata ada pembengkakan di salah satu area selangkangan persis dekat anus saya. Bengkaknya memang tidak seberapa, namun ternyata rasa sakit yang saya rasakan berasal dari sana, artinya saya salah mengira bahwa wasir saya kambuh. Sayapun memutuskan untuk ke dokter.

Besoknya, kebetulan jatuhnya hari Sabtu, dan kebetulan juga saat ini saya sudah tinggal di daerah Cengkareng, sayapun memutuskan ke Rumah Sakit terdekat yaitu RSUD Cengkareng. Karena ada pembengkakan, poliklinik yang saya tuju adalah Poli Bedah Umum. Disinipun saya tidak pernah terpikir untuk ke Puskesmas terlebih dahulu dan menggunakan BPJS Kesehatan karena untuk biaya berobat jalan Rumah Sakit masih belum terlalu mahal untuk kantong saya. Biarlah mereka yang lebih membutuhkan saja yang menggunakannya.

Singkat kata, 2 jam antri baru saya mendapat giliran diperiksa oleh Dokter Ahli Bedah Umum yang bertugas di RSUD Cengkareng, Sayapun menyampaikan keluhan saya. Sang dokter melakukan pemeriksaan, namun karena ia hanya fokus di bagian dubur saya, sayapun menjelaskan kalau rasa sakit yang saya rasakan bukan berasal dari situ tapi ada bagian yang bengkak di dekat situ. Lucu, dokternya sama sekali tidak mempedulikan apa yang saya sampaikan, sama sekali tidak memeriksa bagian yang bengkak yang saya ceritakan, kemudian pergi meninggalkan ruang pemeriksaan. Saya sempat memanggil dan bertanya apa penyebab rasa sakit saya, hanya sambil lalu tanpa ekspresi sang dokter hanya bilang “Ya nanti dilihat dulu.” Entahlah… apa yang akan ia lihat secara ia sudah pergi begitu saja. Saya menunggu beberapa menit, kemudian seorang perawat datang dan bilang kalau saya dirujuk ke Poli Kulit dan Kelamin untuk hari Senin berikutnya karena hari itu hari Sabtu. Saya sempat protes kenapa harus ke Poli Kulit dan Kelamin padahal dokter sendiri belum melakukan pemeriksaan intensif apa penyakit saya. Tapi perawat hanya berkata bahwa itu pesan dokternya. Sayapun dibekali resep 2 jenis obat, pain killer dan antibiotik. Ada rasa kurang puas, namun sekali lagi saya termasuk yang masih percaya dengan profesi dokter, siapapun dia. Akhirnya sayapun pulang dan berharap obat yang kemudian saya tebus dari apotik dapat meringankan penyakit saya sebelum saya datang lagi hari Senin berikutnya ke Poli Kulit dan Kelamin.

Namun apa daya, besoknya hari Minggu, bengkak di selangkangan saya, persis di samping anus semakin menjadi-jadi dan rasa sakitnyapun meningkat secara luar biasa. Bersin kecilpun akan sangat menyiksa buat saya. Sampai saya memutuskan untuk mengonsumsi pain killer yang diresepkan lebih dari dosis karena rasa sakit yang tak tertahankan.

Senin pagi, saya nyaris sulit untuk berjalan karena rasa sakit dan bengkak yang semakin menjadi-jadi. Dalam hati ada rasa kesal terhadap dokter ahli bedah umum kemarin yang seperti lalai atau sengaja membiarkan saya hingga saya harus bertambah parah dalam 2 hari ini. Tapi sudahlah, sayapun bergegas pagi-pagi sekali kembali ke RSUD Cengkareng dengan tujuan poli Kulit dan Kelamin. Anttrian tidak terlalu panjang karena masih sangat pagi, namun tetap harus menunggu karena dokternya belum datang.

Akhirnya dokter Kulit dan Kelamin pun datang dan sebelum melakukan pemeriksaan , sambil melihat berkas rekomendasi dari poli Bedah Umum 2 hari sebelumnya, sang dokter bertanya,” gimana? hemoroidnya sudah diangkat?” Saya pun heran dan sekaligus sadar kalau dokter bedah umum kemarin memang hanya asal mendiagnosa kalau penyebab rasa sakit saya adalah wasir. Pengen marah rasanya, namun untuk apa? Sayapun menjelaskan ke dokter ini, “Begini bu, saya memang punya wasir sudah sejak usia 20an, tapi kemarin saya sudah jelaskan ke dokternya kalau ada pembengkan diselangkangan saya yang kebetulan sangat dekat dengan dubur saya, tapi dokternya kurang memperhatikan, saya malah dirujuk kemari. Dan asal ibu tau, saya hari ini harus berusaha menahan sakit luar biasa untuk bisa datang kemari.”

Si ibu dokterpun menyuruh saya berbaring dan melakukan pemeriksaan. Komentar pertama si dokter ketika dia melihat pembengkakan yang saya alami adalah ” Waduhh…. ini kok dirujuk ke saya sih? Ini harusnya di Bedah Umum. Harusnya Sabtu kemarin ini bisa langsung diangkat, yah paling butuh 4-5 jam agar tidak perlu parah seperti sekarang ini.” GUBRAKKK!!!!

Setelah selesai pemeriksaan, saya hanya bertanya ” lantas saya sebaiknya harus bagaimana bu dokter?”

Si dokterpun menuliskan resep sebuah antibiotik yang katanya jauh lebih keras dan kemungkinan akan sedikit menimbulkan rasa sakit atau mual di perut saya karena infeksi yang saya alami sudah cukup parah. Oke baiklah, sayapun menebus resep tanpa berpikir akan menggunakannya karena saat itu rasa sakit yang saya rasakan sudah sangat luar biasa dan saya harus mencari pertolongan dokter yang benar-benar punya kepedulian dengan pasiennya. Itu yang saya pikirkan. Kedua orang dokter yang saya temui di RSUD Cengkareng, buat saya hanyalanh dokter pekerja yang kebetulan berprofesi dokter dan tidak terlalu peduli apakah pasiennya kesakitan, apakah pasiennya akan semakin parah atau apalah yang dialami pasien sepertinya bukan urusan mereka selama mereka sudah melakukan tugas mereka memeriksa dan mengeluarkan resep.

Setelah meminum obat pain killer untuk meringankan rasa sakit dan beristirahat di rumah sebentar, sorenya saya ke sebuah Rumah Sakit Swasta yang cukup bergengsi di daerah Jakarta Barat juga, dengan tujuan Poli Bedah Umum lagi. Disini saya ketemu dokter Daniel Ardian Soeselo. Begitu melakukan pemeriksaan, ada nada-nada kaget dari sang dokter seolah-olah menyayangkan kenapa saya tidak memeriksakan penyakit saya lebih cepat. Sayapun menceritakan kalau saya sudah memeriksakan ke dokter lain sebelumnya namun tidak mendapatkan perhatian dan perawatan yang tepat. Sang dokterpun menyarankan agar saya langsung menjalani operasi. Saya cukup kaget, karena operasi yang dimaksud adalah operasi besar bukan operasi kecil seperti sekedar mengangkat sebuah bisul atau apalah. Menurut dokter Daniel, kalau saya tidak segera melakukan operasi, rasa sakit yang akan saya alami akan jauh semakin parah dan juga bisa berakibat fatal karena posisi infeksi yang sangat berdekatan dengan dubur. Tampaknya sang dokter sudah familiar dengan sakit yang saya alami ketika ia menjelaskan proses operasi yang harus saya jalankan dan bagaimana proses perawatan hingga penyembuhannya nanti. Intinya saya harus dioperasi hari itu juga, minimal saya sudah harus segera melakukan puasa agar dapat menjalankan operasi malam harinya.

Karena memang rasa sakit yang sudah tidak tertahankan sayapun tidak berpikir atau mempertimbangkan lebih lama lagi. Namun ketika saya menanyakan soal biaya operasi, Dokter Daniel menyuruh saya untuk segera mengurus dan menanyakan masalah biaya ke bagian administrasi rumah sakit, namun menurut dia karena ini operasi besar pastinya lumayan mahal. Si dokterpun menanyakan apakah saya akan bayar sendiri atau saya memiliki asuransi. Sayapun terus terang akan membayar sendiri karena saya tidak punya asuransi kesehatan lagi. Si dokter malah bertanya “memangnya kamu ngga punya BPJS Kesehatan?”

“Wah… Punya sih dok,”kata saya, “tapi saya ngga tau gimana cara menggunakannya. Bukankah harus melalui rujukan dari puskesmas terlebih dahulu?”

“Oh tidak juga!” Dokter Daniel pun menjelaskan bahwa penggunaan BPJS Kesehatan memang harus melalui rujukan dari Puskesmas KECUALI dalam kondisi darurat, dan menurut dia apa yang sekarang saya alami termasuk kondisi darurat, meskipun nanti bukan hanya pihak dokter, tapi juga ada petugas BPJS yang akan ikut memutuskan. Tapi kemudian Dokter Daniel menjelaskan lagi kalau BPJS Kesehatan tidak bisa digunakan di Rumah Sakit itu, namun jika memang saya mau menggunakan BPJS Kesehatan mengingat biaya operasi cukup mahal, apalagi dalam kondisi mendadak seperti itu, iapun menyarankan saya untuk pergi ke Rumah Sakit Atmajaya di daerah Pluit karena di rumah sakit ini menerima pasien BPJS. Meskipun awalnya ragu, jangan-jangan nanti saya juga tidak mendapatkan pelayanan maksimal karena menggunakan BPJS Kesehatan, namun saya cukup terkesan dengan respon dan perhatian sang dokter yang tampak sangat peduli dan tidak masa bodoh seperti kedua orang dokter sebelumnya.

Akhir kata, setelah mengetahui biaya operasi yang memang sangat besar, sayapun memutuskan untuk menerima tawaran Dokter Daniel untuk melakukan operasi di Rumah Sakit Atmajaya menggunakan BPJS Kesehatan, meskipun tidak ada jaminan dari beliau bahwa pengajuan BPJS Kesehatan saya untuk kasus ini akan disetujui atau ditolak, masih ada 2 kemungkinan itu tergantung hasil penilaian petugas BPJS, namun sebagai dokter ia akan menyatakan saya dalam kondisi emergensi. Dan lagi menurut si dokter, biaya operasi dan perawatan di sana juga tidak semahal rumah sakit yang saat ini saya datangi.

Dari situ sayapun meluncur ke RS Atmajaya berbekal surat rekomendasi dari Dokter Daniel. Masih dengan menahan sakit yang semakin menjadi-jadi saya tiba di UGD RS Atmajaya dan dilayani oleh dokter jaga serta beberapa dokter muda yang cukup perhatian dan simpatik. Memang saya harus menunggu beberapa jam untuk menjalani operasi, tapi entah kenapa saya merasakan suasana yang sangat bersahabat di rumah sakit ini. Operasi malam itupun berjalan selama 3 jam dan lancar. Saya menjalani perawatan selam 3 hari sebelum pulang ke rumah dan akhirnya memang benar, semua ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Karena saya membayar premi BPJS Kesehatan untuk kelas 1, jadi saya ditempatkan di kelas 1 bersama seorang pasien lain penderita diabetes yang membiayai perawatannya sendiri tanpa menggunakan asuransi. Apa yang saya rasakan di rumah sakit ini, pelayanannya sangat luar biasa dan tidak sedikitpun saya merasakan perbedaan kualitas pelayanan hanya karena saya dicover oleh BPJS Kesehatan. Terbukti bahwa BPJS Kesehatan sangat membantu kita ketika harus berhadapan dengan penyakit yang membutuhkan biaya cukup besar, dan terbukti bahwa pelayanan BPJS Kesehatan juga tidak sesulit dan seribet yang masih sering dikeluhkan oleh banyak orang. Karena dalam pengalaman saya bukan BPJS Kesehatan yang sulit dan ribet, tapi masih banyak pekerja bidang kesehatan seperti dokter dan perawat yang memang tidak memiliki jiwa profesional , kepedulian dan jiwa melayani yang sebenarnya seperti yang saya alami di RSUD Cengkareng, terlepas saya menggunakan BPJS Kesehatan ataupun tidak. Bayangkan jika saya kesana dengan menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan? Bayar sendiripun tidak mendapatkan pelayanan yang layak kok dari dokternya.


TAGS Dokter RSUD Cengkareng Rumah Sakit Atmajaya BPJS Kesehatan Dr Daniel Ardian Soeselo


-

Search

Latest