Just Another Place 2 Share


Percayalah, Hidup dan Resiko Merupakan Paket Yang Tak Terpisahkan

10 Aug 2015

Seringkali dalam hidup kita lebih memilih untuk tidak melakukan sesuatu atau merubah sesuatu yang sudah berjalan dalam kehidupan kita dengan alasan ‘tidak mau ambil resiko‘ atau untuk ‘menghindari resiko‘.  Terdengar ‘aman‘ atau bisa jadi terkesan ‘mencari aman‘. 

Mencari aman‘ bisa jadi positif bisa juga negatif tergantung konteks atau persitiwa yang sedang kita jalani. ‘Mencari aman’ ketika berada di situasi berbahanya atau mengancam? Itu harus dan wajib. Tapi ketika anda hanya ‘mencari aman’ setiap kali harus memutuskan kemana arah langkah hidup anda, mungkin saja karena anda terlalu malas untuk berusaha lebih. Atau anda terlalu enggan untuk menghadapi perubahan meskipun anda tahu bahwa perubahan yang terarah sangat bagus untuk kehidupan anda. Atau memang anda ingin menghindari beban tanggung jawab yang lebih besar, menghindari konsekuensi-konsekuensi yang harus anda hadapi, meskipun itu semua demi sebuah kehidupan yang lebih baik buat anda. Atau dengan kata lain yah ‘mencari aman’ tadi. Menghindar atau tidak ingin ambil resiko.

Pertanyaannya adalah, benarkah anda ‘aman’ karena tidak mau ambil resiko? Makanya anda selalu memilih untuk diam di tempat, tidak ingin melangkah maju demi rasa aman dan demi terhindar dari resiko?

Think again!

Percayalah bro n sist, hidup itu akan selalu dibarengi dengan resiko demi resiko yang harus kita hadapi. Bahkan ketika kita memilih untuk diam pun, untuk tidak melakukan apa-apa pun, selalu ada resiko yang akan mengikuti kita. Ngga percaya? Coba saja renungi kembali dalam-dalam, review perjalanan hidup anda. Selalu ada sebab-akibat dalam proses hidup manusia. Setiap ‘kejadian‘ yang terjadi dalam hidup anda akan menjadi sebab terjadinya akibat berupa kejadian berikutnya. BAHKAAANNN, ketika ‘tidak ada kejadian’ apa-apapun dalam hidup anda - karena anda memilih tidak melakukan hal-hal yang akan menghadirkan resiko - tetap saja ini akan menjadi sebab yang akan memberikan akibat di hidup kita selanjutnya. Got it?

Jadi kenapa takut mengambil resiko jika taruhannya adalah kehidupan yang jauh lebih baik, lebih dinamis, lebih berwarna dibanding yang anda miliki sekarang. Karena dalam kondisi yang seadanya, ketika anda terus bertahan hanya demi rasa aman yang semu, memilih untuk tidak melakukan hal-hal yang beresiko, percayalah anda sedang menyiapkan diri untuk menghadapi resiko-resiko yang sudah pasti dan justru umum dihadapi oleh manusia yaitu berupa kebosanan, kejenuhan, kehilangan peluang untuk lebih bahagia dan masih banyak lagi, dan yang pasti akan diikuti oleh resiko-resiko berikut lainnya. 

Ah.. ga usah terlalu serius. Bahkan mungkin jangan terlalu percaya dengan tulisan ini. Ini cuma hasil pemikiran yang terbersit sekonyong-konyong karena rasa ‘kesal’ ketika membaca ‘curhatan’ seorang teman via BBM yang katanya selalu serba salah, selalu susah melangkah untuk memperbaiki hidup dan apalagi mengejar hal-hal yang dia inginkan, karena - *katanya* - semua jalan untuk ke arah sana terlalu beresiko. Whaaaaattttt?????

Saya sih cuma berkomentar begini : - Setiap ada pilihan dalam hidup bro, akan tersedia berbarengan dengan resikonya. Dan biasanya semakin menarik pilihan itu buat kita, resiko yang harus dihadapi ‘kelihatannya‘ akan semakin besar.  Terbalik dengan pilihan-pilihan yang cenderung aman yang ‘keliatannya‘ tidak beresiko. - *kata kelihatannya sengaja digaris bawahi yaaa… jadi biar tahu bahwa itu hanya kelihatannya, atau kadang-kadang mungkin hanya perasaan kita saja*

Masih lanjutan komentar saya berikutnya : - Terserah kamu akan menjadi orang yang seperti apa. Apakah menjadi orang yang lebih memilih untuk bertahan dalam posisi yang terasa aman, dimana biasanya orang-orang seperti ini akan berakhir dengan hidup yang relatif datar dan membosankan. Bahkan mungkin berakhir dalam sebuah penyesalan. Orang-orang seperti ini biasanya akan mencari atau membutuhkan hal-hal yang dianggap menarik dan menantang sebagai kompensasi kejenuhan dan kebosanan mereka menjalani hidup. Contoh nyatanya ngga usah jauh-jauh deh. Lihat saja jalanan dari Jakarta arah ke Bandung setiap weekend. Macet total kan? Setotal-totalnya, dan terjadi setiap weekend dalam beberapa tahun terakhir ini. Tapi masih saja dan akan terus terjadi. Kenapa sih orang-orang Jakarta ini rela dan bela-belain menghabiskan sebagian waktu weekend mereka untuk ’ngantri‘ berkilo-kilometer demi liburan singkat di kota Bandung yang sama macetnya juga?. Kan kurang fun jadinya?  Bete di jalan, emosi, kesel bla bla bla. Nah itulah bro maksud saya, itu adalah kompensasi atas hari-hari jenuh dan membosankan yang harus mereka jalani karena pilihan-pilihan aman tadi bro.  Mungkin tanpa mereka sadari, ide bermacet-ria berjam-jam hanya demi plesiran sesaat itu menjadi jawaban kebutuhan hakiki kemanusiaan mereka yaitu ‘kebutuhan untuk menghadapi tantangan‘. Karena dalam kehidupan sehari-hari mereka cenderung menghindari tantangan karena tidak mau ambil resiko itu tadi.  

Atau kamu mau menjadi orang jenis kedua yang berani menghadapi resiko demi melakukan apa yang mereka inginkan, demi mengejar hidup yang lebih berarti. Memang orang-orang seperti ini biasanya akan mengalami lebih banyak pergolakan dan perjuangan dalam hidup mereka. Terkadang jatuh bangun juga. Namun percayalah bro, pada akhirnya mereka ini akan menyadari bahwa proses jatuh bangun itulah hidup yang sebenarnya. Dinamika hidup yang dihasilkan dalam proses jatuh bangun inilah yang menjadi jawaban atas kebutuhan hakiki dalam proses penyempurnaan eksistensi mereka sebagai manusia. Hidup yang dijalankan saja sudah cukup memberikan kebutuhan dan kepuasaan hakiki kemanusiaan mereka. Selanjutnya hasil akhir yang dicapai hanyalah menjadi sebuah bonus untuk dinikmati. Gitu aja broo..

Begitu kira-kira komentar asal saya yang berakhir dengan terciptanya tulisan suka-suka saya ini, sekaligus menjajal platform Blogdetik yang barulaaah. Lagian blog ini juga sudah terlalu lama berhibernasi. 

 


TAGS


-

Search

Latest